Minggu, 21 November 2010

Walikota Medan Resmikan Pembangunan Pajus Baru

Walikota Medan Rahudman Harahap meletakkan batu pertama sebagai tanda resminya pembangunan Pajak (pasar-red) USU (Pajus) yang baru di bekas Stasiun Karona, Jalan Jamin Ginting, Padang Bulan, pada Selasa (16/11). Dalam kata sambutannya Rahudman mengatakan akan berusaha mencarikan investor untuk segera menyelesaikan pasar yang akan diisi oleh seratus pedagang ini.


“Saya sangat prihatin dengan tidak ada lagi izin untuk pedagang berjualan di USU, jadi solusi untuk mendirikan pasar sebagai pengganti Pajus ini sangat bagus. Apresiasi untuk pemilik tanah yang telah menyediakan lahan untuk pedagang ini,” ucap Rahudman. Ia berharap dalam satu bulan kedepan pasar ini sudah dapat beroperasi dan akan terus memantau perkembangan selama pembangunan.


Rahudman menambahkan, untuk menjadikan Pajus sebagai pasar tradisional percontohan harus melalui beberapa kriteria. Kriteria tersebut adalah harus ada koperasi, mushalla, dan satpam. “Kalau para pedagang merasa ada yang kurang, langsung disampaikan,” ujarnya.


“Ini adalah bukti kepedulian pemerintah kepada pembangunan Pajus baru kita,” tutur Subur Sembiring yang bertindak sebagai Kordinator Pengelola Pajus baru ini. Tanah tempat didirikannya pajus baru tersebut adalah milik anggota DPRD yang juga Rektor Politeknik MBP Tenang malem Tarigan.


Seperti diberitakan sebelumnya, pascaterbakar Pajus pada Sabtu (18/9), pihak rektorat USU melarang pedagang berjualan kembali di Kampus USU. Akhirnya, pedagang akan terpecah menjadi tiga tempat, yaitu Stasiun Karona, Kampung Susuk dan di Jalan Dr Mansur.(Febrian Fachri)

Kamis, 11 November 2010

USU Siap Terapkan BLU

Seiring diberlakukannya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 66 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan tahun 2013 USU akan segera menerapkan pola pengelolaan keuangan Badan Layanan Umum(BLU).


Hal tersebut dibenarkan oleh Pembantu Rektor (PR) I Universitas Sumatera Utara (USU) Zulkifli Nasution bahwa PP Nomor 66 Tahun 2010 tersebut sebagai pengganti UU BHP yang dibatalkan.” Semua perguruan tinggi yang sebelumnya berstatus Badan Hukum Milik Negara (BHMN) harus mematuhi PP tersebut. USU juga harus siap menjalankan beberapa ketentuan baru yang akan muncul,” tuturnya kepada SUARA USU, Kamis (11/11).


Beberapa ketentuan baru diantaranya penerapan pola pengelolaan keuangan menjadi BLU. Kekayaan awal perguruan tinggi BHMN yang sudah sempat dipisahkan dialihkan kembali ke negara. Kemudian perguruan tinggi negeri wajib menerima 60 persen mahasiswa melalui pola seleksi nasional dan untuk ke tujuh perguruan tinggi BHMN kembali menjadi PTN termasuk juga USU, yang diberi masa transisi 3 tahun terhitung sejak 28 Desember 2010.


“Kita akan coba transisikan secara perlahan peraturan tersebut, sementara hingga akhir 2012 masih menerapkan pengelolaan keuangan yang lama,” tambah Zulkifli.(Febrian fachri)

Gedung Fisip Ganti Warna

Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) berganti warna dari hitam-putih menjadi biru-putih. Dekan Fisip Prof.Badarudin mengatakan alasan penggantian warna gedung ini untuk menyamakan warna gedung dan bendera Fisip yang berwarna biru. “Saya dan kawan-kawan sepakat jika gedung ini satu warna dengan bendera fakultas,” tutur badarudin saat dijumpai dikantornya, Senin (8/11).


Pergantian warna ini ditanggapi berbeda oleh mahasiswa-mahasiswa di Fisip. Joni mahasiswa Administrasi Negara mengatakan jika ia keberatan dengan pengantian warna gedung fakultas ini.ia mengatakan lebih nyaman dengan warna yang lama hitam putih.”Pergantian warna ini akan menghilangkan citra Fisip yang selama ini akrab dengan warna hitam-putih yang maknanya sisi gelap dan terangnya kehidupan sosial dan politik di negeri ini,” terangnya.


Hal berbeda dikemukakan oleh Nurmaisari mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial. ia sangat setuju dengan pergantian warna ini lantaran tidak suka dengan warna selama ini hitam-putih. Menurutnya dengan ini citra sisi gelap dan terang lingkungan sosial politik akan berubah menjadi sesuatu yang lebih cerah. (Febrian Fachri)

Kamis, 04 November 2010

Sastra Jepang Akan Terima Kunjungan Guru Besar Tohoku

Jurusan Sastra Jepang USU akan menerima kedatangan Guru Besar dari Universitas Tohoku Jepang pada pertengahan November nanti. Kedatangan ini bertujuan menjalin hubungan kerjasama dengan USU dan mengadakan seminar tentang sistem keprcayaan Jepang.

“Hal ini tentu akan sangat menguntungkan bagi Jurusan Sastra Jepang khususnya dan USU pada umumnya,” tutur Prof.Hamson Situmorang, ketua Jurusan Sastra Jepang sesaat setelah pembukaan acara Bunkasai, Kamis (4/11). Hamson yang juga alumni Universitas Tohoku menambahkan kerjasama ini akan meningkatkan akreditasi Sastra Jepang USU karena akan dapat melakukan pertukaran dosen dan mahasiswa.

Kerjasama dengan perguruang tinggi dari Jepang ini bukanlah kali pertama karena sebelumnya Universitas Tenri pernah berkunjung ke USU sebanyak tiga kali.

Hamson sangat optimis dengan perkembangan Sastra Jepang karena semakin meningkatnya peminat tiap tahun. Untuk tahun 2010 Sastra Jepang menerima 95 mahasiswa baru melebihi jumlah tahun lalu. Namun ia masih menyayangkan tenaga pengajar yang ada. Saat ini sastra Jepang hanya memiliki 11 orang dosen tetap dan 10 orang dosen honorer. (Febrian Fachri)