febrian. 12 oktober 2010
Belasan alumni mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) USU melakukan protes kepada pihak Dekanat FKM untuk menuntut pembagian ijazah, Senin (11/10). Alumni FKM yang baru diwisuda pada Agustus lalu ini merasa dua setengah bulan sudah terlalu lama untuk menunggu pembagian ijazah karena sangat dibutuhkan untuk mencari pekerjaan.
Apalagi dalam waktu dekat akan ada seleksi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Departemen Kesehatan untuk beberapa provinsi di Sumatera. Para alumni FKM yang rata-rata angkatan 2006 ini mengaku sudah resah menunggu kepastian pembagian ijazah. Padahal tenggat waktu penyerahan berkas persyaratan untuk mengikuti seleksi PNS tinggal sedikit lagi.
“Batas penyerahan berkas untuk tes PNS ini hanya sampai 14 Oktober, sedangkan kepastian pembagian ijazah belum ada hingga saat ini,” tutur salah seorang alumni FKM yang enggan disebutkan namanya. Ia juga mengaku sudah berulang kali mendatangi bagian kemahasiswaan fakultas tersebut, namun tak pernah ada kejelasan dari petugas-petugas administrasi FKM tersebut.
Menanggapi hal ini Pembantu Dekan III FKM Abdul Jalil menjelaskan kesalahan ini terjadi karena adanya mutasi beberapa pegawai administrasi seiring pergantian Dekan FKM. “Keterlambatan pembagian ijazah ini terjadi karena adanya pergantian pemimpinan dekanat dan jajarannya, jadi pimpinan yang lama tidak menyelesaikan semua administrasi mahasiswa sebelum serah terima jabatan,” ucap Abdul Jalil saat ditemui SUARA USU di kantornya.
Minggu, 31 Oktober 2010
demo pedagang pajus
Puluhan pedagang Pajak USU (Pajus) berdemonstrasi di depan Gedung Biro Rektor USU pada Rabu pagi (13/10). Demonstrasi tersebut digelar setelah adanya timbunan tanah bahan bangunan di lahan parkiran Pajus yang membuat pedagang tak bisa berjualan. Tuntutan mereka adalah dibukanya kembali Pajus.
Para pedagang juga menuntut kejelasan akan uang sewa yang telah mereka bayar ke pengelola sampai tahun 2011. “Kami sudah membayar dua juta untuk uang sewa, kami hanya ingin kejelasan,” ucap Jaelani, salah satu pedagang Pajus ketika berdialog dengan Pembantu Rektor (PR) III, PR V, Dekan Fakultas Ekonomi (FE) John Tafbu dan pengelola Pajus Wara Sinuhaji. Jaelani juga memperlihatkan kuitansi pembayaran retribusi sebesar dua juta rupiah sampai tahun 2011.
febrian. 14 oktober 2010
Kepada demonstran, Wara Sinuhaji menjelaskan sejauh ini pihaknya sudah mengusahakan dan memperjuangkan nasib pedagang. “Tapi ya mau gimana lagi kalau tidak diizinkan pemerintah?” tambahnya. Wara juga menjanjikan akan mengembalikan uang retribusi pedagang, apabila memperlihatkan kuitansi pelunasan.
Melihat situasi tidak memungkinkan untuk berdialog di depan semua pedagang yang sudah emosi, pihak rektorat meminta lima orang perwakilan pedagang Pajus untuk berdialog bersama rektor. Dalam dialognya, pedagang meminta setidaknya mereka diizinkan berjualan hingga akhir semester ini. Namun, diterima atau tidaknya permintaan tersebut oleh USU, baru akan di umumkan Sabtu (16/10) mendatang.
Pascakebakaran September lalu, rektorat memutuskan untuk tidak membuka kembali Pajus. Lahan Pajus akan digunakan untuk membangun gedung tambahan FE. Namun, sejumlah pedagang tetap berjualan di pelataran parkir pajus. Puluhan pedagang tetap bertahan di lokasi tersebut meski sudah mendapat surat himbauan pengosongan Pajus dari Kepala Keamanan USU. (Febrian)
Para pedagang juga menuntut kejelasan akan uang sewa yang telah mereka bayar ke pengelola sampai tahun 2011. “Kami sudah membayar dua juta untuk uang sewa, kami hanya ingin kejelasan,” ucap Jaelani, salah satu pedagang Pajus ketika berdialog dengan Pembantu Rektor (PR) III, PR V, Dekan Fakultas Ekonomi (FE) John Tafbu dan pengelola Pajus Wara Sinuhaji. Jaelani juga memperlihatkan kuitansi pembayaran retribusi sebesar dua juta rupiah sampai tahun 2011.
febrian. 14 oktober 2010
Kepada demonstran, Wara Sinuhaji menjelaskan sejauh ini pihaknya sudah mengusahakan dan memperjuangkan nasib pedagang. “Tapi ya mau gimana lagi kalau tidak diizinkan pemerintah?” tambahnya. Wara juga menjanjikan akan mengembalikan uang retribusi pedagang, apabila memperlihatkan kuitansi pelunasan.
Melihat situasi tidak memungkinkan untuk berdialog di depan semua pedagang yang sudah emosi, pihak rektorat meminta lima orang perwakilan pedagang Pajus untuk berdialog bersama rektor. Dalam dialognya, pedagang meminta setidaknya mereka diizinkan berjualan hingga akhir semester ini. Namun, diterima atau tidaknya permintaan tersebut oleh USU, baru akan di umumkan Sabtu (16/10) mendatang.
Pascakebakaran September lalu, rektorat memutuskan untuk tidak membuka kembali Pajus. Lahan Pajus akan digunakan untuk membangun gedung tambahan FE. Namun, sejumlah pedagang tetap berjualan di pelataran parkir pajus. Puluhan pedagang tetap bertahan di lokasi tersebut meski sudah mendapat surat himbauan pengosongan Pajus dari Kepala Keamanan USU. (Febrian)
Dinilai aman, parkiran perpustakaan USU padat
Febrian.19 oktober 2010.
Tingkat keamanan parkir yang lebih baik dibandingkan di fakultas-fakultas membuat mahasiswa fakultas sekitar lebih memilih memarkirkan kendaraannya di tempat parkir Perpustakaan USU. “Lebih aman aja parkir di sini, tidak seperti parkiran di fakultas-fakultas yang sering terjadi pencurian,” ujar Saputra, Mahasiswa Fakultas Pertanian (FP), Sabtu (16/10) lalu.
Menurut pantauan SUARA USU, di beberapa fakultas sering terjadi pencurian sepeda motor. Di Fakultas Ekonomi (FE) misalnya, dalam satu hari sebanyak dua sepeda motor yang hilang. Tak hanya di FE, di Fakultas Sastra pun telah beberapa kali terjadi pencurian sepeda motor.
Yaya, salah satu petugas parkir Perpustakaan USU mengaku tidak bisa mencegah hal ini. “Saya tidak bisa melarang mahasiswa sekitar memarkir sepeda motor di sini karena persyaratannya hanya memperlihatkan STNK,” terangnya.
Tidak seperti di beberapa fakultas, di tempat parkir Perpustakaan USU setiap pengguna sepeda motor diminta menunjukkan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) ketika mengeluarkan kendaraannya.
21 Tahun menjadi Tukang Petik Sawit
Febrian. 30 oktober 2010
Kulit mulai keriput. Giginya sudah banyak copot. Dan rambutnya sudah dominan putih. Memakai celana ponggol coklat kusam dan hanya memakai singlet usang keluar dari rumah pondok pekerja kebon. Lelaki berusia 52 tahun ini terkesan bingung menyambut kedatangan saya dirumahnya.
Sumarno biasanya dipangil sutar oleh masyarakat sekitar.Sutar mengajak saya ngobrol di lapak depan rumah . tepatnya di bawah pohon mangga dan jambu yang rimbun menutupi sebagian atap rumahnya. 21 tahun sudah sumarno bekerja sebagai Buruh harian Lepas di perkebunan sawit milik PT Sinarmas Group Tbk. Saya melontarkan beberapa pertanyaan mengenai kehidupan pak sutar selama bekerja di kebun sawit ini.
Sutar adalah Buruh Harian Lepas (BHL) dengan spesialisasi sebagai pemetik sawit. Satu hari minimal Sutar harus memetik 40 janjang sawit. Bila lebih dari 40 janjang maka sutar mendapatkan Fee sebesar Rp 750 perjanjang. Untuk satu bulan Sutar memperoleh gaji dari perusahaan sebesar Rp 1.050.000,00
Untuk memetik sawit Sutar menggunakan penjuluk besi sepanjang 20 meter. Diujungnya diikatkan sabit tajam. Untuk membeli ini Sutar harus membayar kreditnya Rp.13.500,00 perbulannya kepada perusahaan.
Sutar mengaku puas bisa bekerja sebagai BHL. ia tidak hanya mengandalkan upah BHL untuk menghidupi keluarganya. Ia juga berternak tujuh ekor lembu, 30 ekor ayam dan 20 ekor entok. “ saya juga memelihara ternak buat tabungan, celengan berjalan istilahnya,” ucap Sutar.
Di depan lapak terdapat sebuah warung kecil kira-kira berukuran 3X3 meter yang saat itu sedang ditutup. Ia mengatakan istrinya Istipa berjualan bakso pada hari sabtu untuk menambah uang belanja diakhir pekan.
“ini warungnya kok gak dibuka pak ?”
“Ini warung dibukanya hari minggu aja , gak tiap hari , itupun cuma jualan bakso aja. Lumayanlah buat nambah uang belanja,”.
Batas usia kerja di perkebunan PT Sinarmas ini hingga usia 55 tahun. Dan tiga tahun lagi Sutar akan pensiun dari pekerjaannya sebagai BHL. Sutar mengatakan sudah siap menghadapi masa pensiunnya nanti. Uang dari hasil jerih payahnya telah bisa untuk membeli sebidang tanah.
workshop padang halaban
Penanganan HAM Belum Serius.
febrian. 30 oktober 2010.
Indonesia sebagai negara demokrasi masih menyisakan beberapa permasalahan menyangkut Hak Asasi Manusia (HAM). kekerasan dan penganiayaan oleh aparatur negara terhadap masyarakat sipil masih sering terjadi di daerah konflik seperti di Aceh, Maluku dan papua. Hal ini diungkapkan oleh Andreas Harsono dalam workshop penulisan narasi di Gedung Training Center PT Smart Tbk Padang Halaban Sumatera Utara (26/10).
Menurut Andreas, masih banyak lagi kasus kekerasan yang luput dari perhatian pemerintah. Ia menayangkan video “Indonesia Military III and Torture Indigenous Papuans”. Video tersebut menayangkan kekerasan terhadap masyarakat sipil di Papua yang dilakukan Tentara Republik Indonesia (TNI) beberapa waktu lalu. “Jelas ini adalah pelanggaran HAM berat,” ungkap Andreas.
Workshop ini diikuti oleh 20 anggota pers mahasiswa di Medan dan Aceh atas kerjasama Eka Tjipta Foudation (ETF) dengan Pers Mahasiswa SUARA USU berlangsung pada 25-30 Oktober. Workshop ini juga menhadirkan pemateri Andreas Harsono dan Chik Rini, keduanya penulis buku Jurnalisme Sastrawi.
Langganan:
Postingan (Atom)