Judul : Cintai Dia yang Bersamamu (Love One You’re With)
Penulis : Emily Giffin
Penerbit : Esensi
Tahun Terbit : 2009
Tebal Buku : 515 Halaman
Harga : Rp 57.000
Jika tak mampu meraih cinta yang kau dambakan, mampukah kau mencintai dia yang bersamamu
Pertemuan itu terjadi secara tidak sengaja, Ellen bertemu kembali dengan Leo yang pernah menjadi belahan jiwanya beberapa tahun silam. Leo yang tampan, penuh gairah, dan mempunyai pesona yang dapat membuat mana pun jatuh pingsan. Di sisi lain, Ellen dulu seprofesi dengan Leo sebagai fotografer telah menikah dengan Andy. Pria kaya raya yang cukup tampan, baik hati, dan sangat mencintainya. Ellen Bahkan sudah bersahabat dengan adik Andy, Margot, sejak masih sekolah. Keluarga Andy pun sudah seperti keluarganya sendiri. Kehidupan Ellen rasanya sudah sempurna.
Namun dengan kembalinya sosok Leo di kehidupannya membuat Ellen terobsesi dengan keindahan menjalin cinta dengan Leo. Ia banyak menerawang detail masa-masa indah yang dilalui bersama Leo. Dari awal perjumpaan ketika berprofesi sebagai juri, saat pemotretan bersama dan kejadian-kejadian romantis yang sulit untuk ia lupakan. Ellen sempat kesal dengan Margot yang mencegah Leo untuk kembali menjumpainya beberapa saat setelah mereka putus. Kepada Margot, Leo mengatakan bahwa ia ingin meminta maaf kepada Ellen dan ingin menjalin cinta mereka kembali. Namun Margot lebih merestui Ellen yang sudah mulai menjalin hubungan dengan Andy saat itu. Sebelum menikah dengan Andy, Ellen masih berharap Leo untuk kembali kepadanya, tetapi saat itu Leo seakan menghilang tanpa bisa diketahui oleh Ellen.
Sekarang, dipersimpangan jalan, Ellen harus memilih. Kembali pada cinta lama yang sangat ia dambakan atau kembali pada kehidupan bersama suaminya Andy.
Satu lagi karya penulis debutan Emily Giffin. Penulis laris yang masuk ke dalam daftar New York Times Best Seller berkat karya-karyanya. Cerita dalam buku ini bermula sejak perjumpaan Leo dan Ellen di sebuah persimpangan. Setelah itu banyak mengisahkan masa lalu yang ada di dalam fikiran Ellen. Bagaimana awal perjumpaan dengan Leo, bagaimana kehidupan Ellen dengan latar belakang keluarga yang berantakan dan disambut baik di keluarga Graham (keluarga Margo), hingga bagaimana kisahnya dengan Andy.
Jika kita hanya membaca bagian awal dan akhir cerita pada buku ini, kita sudah bisa menangkap inti yang ditulis oleh Emily. Ketebalan buku ini yang melebihi lima ratus halaman hanya banyak dipenuhi dengan deskripsi dari Ellen yang bergelut dengan pikiran, perasaan, dan latar belakang keluarganya yang sarat dengan nuansa Amerika.
Singkat cerita, buku ini mengangkat kisah yang biasa ditayangkan pada telenovela yang spesifik dengan kisah percintaan dan tidak mempunyai nilai human interest sama sekali. Cocok dibaca oleh kalangan yang menyukai sinetron, serial Korea, ataupun telenovela. Karena disuguhi bagaimana perempuan dengan perasaan halusnya, adegan pertengkaran, saat-saat romantis dan bagaimana kehidupan mereka setelah menikah. (Febrian Fachri)
Sabtu, 14 Mei 2011
Kamis, 31 Maret 2011
Pengabdian Masyarakat, Niat Mulia Terkendala Biaya
Sebagai salah satu unsur Tridharma perguran tinggi, pengabdian masyarakat akan berperan dalam pembangunan. Namun program pengabdian tidak begitu banyak dilakukan karena seleksi yang ketat dan keterbatasan dana
Maret 2010, Badarudin, Dosen Departemen Sosiologi memasukkan proposal program Pengabdian Masyarakat. Proposal yang ia ajukan untuk memperoleh dana Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DP2M) Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Dikti). Ia dan empat rekannya Arif Nasution yang saat itu masih Dekan Fisip, Hasnudi dari Fakultas Pertanian (FP), dan Harmona Daulay yang juga dosen Departemen Sosiologi, berencana melakukan pengabdian di Desa Dolok Merawan, Kabupaten Serdang Berdagai. Mereka mengajukan proposal pengabdian berjudul ‘Pemberdayaan Sosial Ekonomi Komunitas Petani Miskin Melalui Peternakan Kambing Etawa’. Badar yang bertindak selaku koordinator melihat perekonomian masyarakat petani di daerah tersebut masih di bawah standar. Namun topografi disana untuk peternakan kambing.
Ketatnya persaingan proposal yang masuk untuk DP2M Dikti saat itu sempat membuat Badar dan kawan-kawan pasrah apabila tidak lolos seleksi. ”Saat itu saya mendengar seleksi proposal pengabdian DP2M Dikti sangat ketat, karena tidak ada perkembangan saya pasrah saja apabila itu tidak lolos,” kenang Badar. Namun selang enam bulan kemudian tepatnya September 2010 ia mendapat kabar proposal pengabdian yang mereka ajukan lolos seleksi dan memperoleh dana sebesar Rp40 juta.
Saat itu Badarudin telah menduduki posisi sebagai Dekan Fisip sejak Agustus 2010 menggantikan Arif Nasution. Badar menceritakan saat itu dua rekannya Arif Nasution dan Harmona Daulay tidak terlalu terlibat dalam mengonsep program pengabdian yang akan mereka lakukan. Arif ada kesibukan lain dan Harmona melanjutlkan kuliah di luar negeri. “Jadi hanya saya dan Hasnudi yang melaksanakan sampai akhir,” ucap Badar saat dijumpai di kantornya, Rabu (30/3).
Dikatakan Badar, Hasnudi yang juga guru besar FP sangat paham akan kiat-kiat dalam hal perternakan. “Hasnudi yang mengonsep kiat-kiat berternak kambing, karena itu bidangnya dan saya selalu intens mengkomunikasikannya dengan masyarakat di Dolok Merawan, kebetulan itu adalah kampong halaman saya” terang Badar.
Dalam pelaksanaannya, Badar membentuk beberapa kelompok yang mayoritas adalah petani. Masing-masing kelompok beranggotakan empat orang, yang mendapat jatah tiga ekor kambing. Kambing Etawa adalah jenis kambing bertubuh tinggi dengan pertumbuhan yang terbilang cepat dari kambing biasa. Badar berharap bisa menjadi contoh bagi masyarakat lainnya dan bisa meningkatkan perekonomian masyarakat Dolok Merawan.
Badar mengatakan hingga saat ini masih sering memantau perkembangan program pengabdian yang ia buat. “Masyarakat disana sangat merasakan pengabdian yang kami buat,” ucapnya dengan lega.
Satu lagi contoh pengabdian masyarakat dilakukan oleh Abdul Jalil Amri Arma, Pembantu Dekan III fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM). ia melaksanakannya pada Oktober 2010 lalu. Ia mengusung tema ‘Penyuluhan Dampak Pemberian ASI Ekslusif bagi tumbuh kembang balita’ di di Dusun XIII, Desa Sei Rotan, Kecamatan Percut Sei Tuan.
Dalam pelaksanaannya Jalil bertindak sebagai koordinator. Enam orang anggota lainnya juga dari dosen-dosen FKM. Mereka memperoleh dana DMR FKM sebesar Rp2,5 juta.
“Saat itu kami mengumpulkan ibu-ibu di sebuah forum untuk diberikan penyuluhan mengenai tema yang kami usung. Agar sampai ke tujuan objek yang sebenarnya, kami mendatangi rumah-rumah yang mempunyai Balita dan ibu hamil,” terang Jalil saat ditemui di ruangannya, Kamis (24/3).
Persiapan selama tiga bulan dan proses pelaksanaan di lapangan selama seminggu, Jalil mengatakan dana Rp2,5 juta yang diberikan oleh fakultas tidaklah cukup. Ia dan anggota tim-nya terpaksa mengeluarkan dana pribadi untuk mewujudkan pengabdian ini. “Namanya pengabdian, perlu sedikit pengorbanan juga,” ungkapnya dengan sedikit tertawa.
Dua pengalaman pengabdian diatas menggambarkan penyebab minimnya jumlah pengabdian karena ketidakpastian dana yang turun dan proses yang tidak mudah. Hal ini diakui Syamsul Jumari, salah satu staf Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) USU. Ia mengatakan, banyak dosen yang berminat untuk melakukan pengabdian masayakat setiap tahunnya. Namun banyak yang mengurungkan niat karena minimnya dana yang turun dari pihak USU. “Banyak proposal pengabdian yang diproses setengah jalan karena dana yang tidak pasti dan melewati seleksi ketat,” ucap Syamsul.
Hal yang sama juga dikatakan Badar. Minimnya jumlah pengabdian karena kompetisi judul-judul yang masuk dan dana yang ada tidak begitu pasti jumlahnya. Namun Badar menimpali ada juga pengabdian yang tidak terdata oleh LPPM. “Ketidakpastian dana membuat sebagian dosen melakukan program pengabdian secara pribadi dengan bekerja sama dengan pihak luar,” tambahnya
DUKUNG PROGRAM KKN DIADAKAN LAGI
Dulu sebelum tahun 1997, USU juga ada program Kuliah Kerja Nyata (KKN) bagi setiap mahasiswa. Namum karena pada 1997-1998 masa pergolakan oleh mahasiswa untuk menjatuhkan rezim Orde Baru, pihak USU menilai KKN yang dilakukan di daerah-daerah tidaklah aman bagi mahasiswa. Sejak itulah di USU tidak lagi ada KKN hingga sekarang.
Abdul Jalil menyayangkan KKN tidak ada lagi di USU hingga saat ini. Ia menilai KKN sangatlah bagus untuk mewujudkan program pengabdian masyarakat. “Banyak manfaat yang bisa dimbil dari KKN, mahasiswa akan terlatih terjun ke masyarakat, dan juga lebih memperkenalkan USU kepada masyarakat luas,” ucap Jalil.
Badarudin, juga berpendapat bahwa KKN sangat bagus untuk kembali diadakan di USU. Menurutnya dengan KKN akan memberikan sumbangan sumber daya manusia yang potensial di masyarakat. “Akan saling menguntungkan antara masyarakat dan mahasiswa,” ungkap Badar.
Namun Badar menambahkan apabila KKN benar-benar diadakan lagi di USU, sebaiknya lebih dimatangkan lagi formatnya, misalnya jangka waktu pelaksanaan yang tidak terlalu lama dan peningkatan kualitas mahasiswa yang akan terjun ke masyarakat. (Febrian Fachri)
Maret 2010, Badarudin, Dosen Departemen Sosiologi memasukkan proposal program Pengabdian Masyarakat. Proposal yang ia ajukan untuk memperoleh dana Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DP2M) Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Dikti). Ia dan empat rekannya Arif Nasution yang saat itu masih Dekan Fisip, Hasnudi dari Fakultas Pertanian (FP), dan Harmona Daulay yang juga dosen Departemen Sosiologi, berencana melakukan pengabdian di Desa Dolok Merawan, Kabupaten Serdang Berdagai. Mereka mengajukan proposal pengabdian berjudul ‘Pemberdayaan Sosial Ekonomi Komunitas Petani Miskin Melalui Peternakan Kambing Etawa’. Badar yang bertindak selaku koordinator melihat perekonomian masyarakat petani di daerah tersebut masih di bawah standar. Namun topografi disana untuk peternakan kambing.
Ketatnya persaingan proposal yang masuk untuk DP2M Dikti saat itu sempat membuat Badar dan kawan-kawan pasrah apabila tidak lolos seleksi. ”Saat itu saya mendengar seleksi proposal pengabdian DP2M Dikti sangat ketat, karena tidak ada perkembangan saya pasrah saja apabila itu tidak lolos,” kenang Badar. Namun selang enam bulan kemudian tepatnya September 2010 ia mendapat kabar proposal pengabdian yang mereka ajukan lolos seleksi dan memperoleh dana sebesar Rp40 juta.
Saat itu Badarudin telah menduduki posisi sebagai Dekan Fisip sejak Agustus 2010 menggantikan Arif Nasution. Badar menceritakan saat itu dua rekannya Arif Nasution dan Harmona Daulay tidak terlalu terlibat dalam mengonsep program pengabdian yang akan mereka lakukan. Arif ada kesibukan lain dan Harmona melanjutlkan kuliah di luar negeri. “Jadi hanya saya dan Hasnudi yang melaksanakan sampai akhir,” ucap Badar saat dijumpai di kantornya, Rabu (30/3).
Dikatakan Badar, Hasnudi yang juga guru besar FP sangat paham akan kiat-kiat dalam hal perternakan. “Hasnudi yang mengonsep kiat-kiat berternak kambing, karena itu bidangnya dan saya selalu intens mengkomunikasikannya dengan masyarakat di Dolok Merawan, kebetulan itu adalah kampong halaman saya” terang Badar.
Dalam pelaksanaannya, Badar membentuk beberapa kelompok yang mayoritas adalah petani. Masing-masing kelompok beranggotakan empat orang, yang mendapat jatah tiga ekor kambing. Kambing Etawa adalah jenis kambing bertubuh tinggi dengan pertumbuhan yang terbilang cepat dari kambing biasa. Badar berharap bisa menjadi contoh bagi masyarakat lainnya dan bisa meningkatkan perekonomian masyarakat Dolok Merawan.
Badar mengatakan hingga saat ini masih sering memantau perkembangan program pengabdian yang ia buat. “Masyarakat disana sangat merasakan pengabdian yang kami buat,” ucapnya dengan lega.
Satu lagi contoh pengabdian masyarakat dilakukan oleh Abdul Jalil Amri Arma, Pembantu Dekan III fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM). ia melaksanakannya pada Oktober 2010 lalu. Ia mengusung tema ‘Penyuluhan Dampak Pemberian ASI Ekslusif bagi tumbuh kembang balita’ di di Dusun XIII, Desa Sei Rotan, Kecamatan Percut Sei Tuan.
Dalam pelaksanaannya Jalil bertindak sebagai koordinator. Enam orang anggota lainnya juga dari dosen-dosen FKM. Mereka memperoleh dana DMR FKM sebesar Rp2,5 juta.
“Saat itu kami mengumpulkan ibu-ibu di sebuah forum untuk diberikan penyuluhan mengenai tema yang kami usung. Agar sampai ke tujuan objek yang sebenarnya, kami mendatangi rumah-rumah yang mempunyai Balita dan ibu hamil,” terang Jalil saat ditemui di ruangannya, Kamis (24/3).
Persiapan selama tiga bulan dan proses pelaksanaan di lapangan selama seminggu, Jalil mengatakan dana Rp2,5 juta yang diberikan oleh fakultas tidaklah cukup. Ia dan anggota tim-nya terpaksa mengeluarkan dana pribadi untuk mewujudkan pengabdian ini. “Namanya pengabdian, perlu sedikit pengorbanan juga,” ungkapnya dengan sedikit tertawa.
Dua pengalaman pengabdian diatas menggambarkan penyebab minimnya jumlah pengabdian karena ketidakpastian dana yang turun dan proses yang tidak mudah. Hal ini diakui Syamsul Jumari, salah satu staf Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) USU. Ia mengatakan, banyak dosen yang berminat untuk melakukan pengabdian masayakat setiap tahunnya. Namun banyak yang mengurungkan niat karena minimnya dana yang turun dari pihak USU. “Banyak proposal pengabdian yang diproses setengah jalan karena dana yang tidak pasti dan melewati seleksi ketat,” ucap Syamsul.
Hal yang sama juga dikatakan Badar. Minimnya jumlah pengabdian karena kompetisi judul-judul yang masuk dan dana yang ada tidak begitu pasti jumlahnya. Namun Badar menimpali ada juga pengabdian yang tidak terdata oleh LPPM. “Ketidakpastian dana membuat sebagian dosen melakukan program pengabdian secara pribadi dengan bekerja sama dengan pihak luar,” tambahnya
DUKUNG PROGRAM KKN DIADAKAN LAGI
Dulu sebelum tahun 1997, USU juga ada program Kuliah Kerja Nyata (KKN) bagi setiap mahasiswa. Namum karena pada 1997-1998 masa pergolakan oleh mahasiswa untuk menjatuhkan rezim Orde Baru, pihak USU menilai KKN yang dilakukan di daerah-daerah tidaklah aman bagi mahasiswa. Sejak itulah di USU tidak lagi ada KKN hingga sekarang.
Abdul Jalil menyayangkan KKN tidak ada lagi di USU hingga saat ini. Ia menilai KKN sangatlah bagus untuk mewujudkan program pengabdian masyarakat. “Banyak manfaat yang bisa dimbil dari KKN, mahasiswa akan terlatih terjun ke masyarakat, dan juga lebih memperkenalkan USU kepada masyarakat luas,” ucap Jalil.
Badarudin, juga berpendapat bahwa KKN sangat bagus untuk kembali diadakan di USU. Menurutnya dengan KKN akan memberikan sumbangan sumber daya manusia yang potensial di masyarakat. “Akan saling menguntungkan antara masyarakat dan mahasiswa,” ungkap Badar.
Namun Badar menambahkan apabila KKN benar-benar diadakan lagi di USU, sebaiknya lebih dimatangkan lagi formatnya, misalnya jangka waktu pelaksanaan yang tidak terlalu lama dan peningkatan kualitas mahasiswa yang akan terjun ke masyarakat. (Febrian Fachri)
Perubahan Nama FS, Tunggu Pengakuan Dikti
Perubahan nama Fakultas Sastra (FS) menjadi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) tinggal menunggu pengakuan dari Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti). Hal ini disampaikan oleh Syahron Lubis, Dekan FS saat dijumpai di kantornya, Selasa (29/3). Syahron mengatakan sejak Oktober 2010 lalu, Pihak Rektorat USU telah menyetujui perubahan nama ini.
“Saat ini kami masih menunggu kepastian dari Dikti untuk mengasese nama menjadi FIB dan pihak rektorat mendukung perubahan ini,” ucap syahron. Ia menambahkan jika sudah banyak universitas terkemuka di Indonesia yang sudah berganti nama dari FS ke FIB seperti UI, UGM. Hal ini karena banyak Departemen yang tidak cocok dengan nama FS. “Misalnya Departemen Ilmu Perpustakaan, Pariwisata, Etnomusikologi, mereka akan terangkum apabila dengan nama FIB,” tutur pria yang juga dosen Sastra Inggris ini.
Apabila nama FIB sudah terealisasi Syahron menjamin, tidak akan mempengaruhi jumlah departemen yang ada di FS saat ini, begitu juga dengan kurikulum setiap departemen tersebut. “Ini hanya perubahan nama dengan tujuan merangkul semua departemen, jadi tidak menganggu komposisi kurikulum,” tutupnya. (Febrian Fachri)
“Saat ini kami masih menunggu kepastian dari Dikti untuk mengasese nama menjadi FIB dan pihak rektorat mendukung perubahan ini,” ucap syahron. Ia menambahkan jika sudah banyak universitas terkemuka di Indonesia yang sudah berganti nama dari FS ke FIB seperti UI, UGM. Hal ini karena banyak Departemen yang tidak cocok dengan nama FS. “Misalnya Departemen Ilmu Perpustakaan, Pariwisata, Etnomusikologi, mereka akan terangkum apabila dengan nama FIB,” tutur pria yang juga dosen Sastra Inggris ini.
Apabila nama FIB sudah terealisasi Syahron menjamin, tidak akan mempengaruhi jumlah departemen yang ada di FS saat ini, begitu juga dengan kurikulum setiap departemen tersebut. “Ini hanya perubahan nama dengan tujuan merangkul semua departemen, jadi tidak menganggu komposisi kurikulum,” tutupnya. (Febrian Fachri)
Senin, 28 Februari 2011
IMIB USU Adakan Malam Kesenian Minang
Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ikatan Mahasiswa Imam Bonjol (Imib) USU kembali mengadakan malam kesenian tradisional daerah minangkabau. Acara bertemakan ‘Kok Silaturahmi Alah Dakek, Jo Baralek Gadang Kito Paarek’ ini akan diadakan di Gedung Badan Musyawarah Masyarakat Minang (BM3) pada Sabtu (5/3).
Ficky Vernandes Isman, Ketua Umum Imib USU mengatakan acara ini merupakan program kerja dari bidang minat bakat dalam pengurusan IMIB USU. “Kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan kebudayaan minang di kota Medan,” ucapnya.
Penyelenggaraan acara ini mendapat dukungan penuh dari BM3 sebagai organisasi induk masyarakat Sumatera Barat di kota medan. Hal ini diakui Djanius Djamin, ketua BM3. ”BM3 sangat mendukung kegiatan seperti ini sebagai wadah silaturahmi masyarakat minang yang merantau ke Medan,” ujarnya.
Djanius menambahkan acara ini akan dihadiri oleh sejumlah pengurus BM3 diantaranya Yunan Sirhan, , Delyuzar, Suhardiman, dan sejumlah anggota lainnya.
Salmi Hengky, ketua panitia penyelenggara mengatakan, masyarakat minang yang menghadiri nanti akan di hibur dengan sejumlah tari-tarian minang termasuk randai salah satunya. ”Semoga dengan terselenggaranya acara ini sedikit mengobati kerinduan perantau dengan suasana ranah minang,” ucapnya disela-sela persiapan acara. Mahasiswa Ilmu komunikasi Fisip USU ini menambahkan, saat ini segala persiapan pelaksanaan acara tidak begitu menemui kendala berarti. “Peserta yang akan tampil telah melakukan latihan dari jauh hari,” tambahnya.
Ficky Vernandes Isman, Ketua Umum Imib USU mengatakan acara ini merupakan program kerja dari bidang minat bakat dalam pengurusan IMIB USU. “Kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan kebudayaan minang di kota Medan,” ucapnya.
Penyelenggaraan acara ini mendapat dukungan penuh dari BM3 sebagai organisasi induk masyarakat Sumatera Barat di kota medan. Hal ini diakui Djanius Djamin, ketua BM3. ”BM3 sangat mendukung kegiatan seperti ini sebagai wadah silaturahmi masyarakat minang yang merantau ke Medan,” ujarnya.
Djanius menambahkan acara ini akan dihadiri oleh sejumlah pengurus BM3 diantaranya Yunan Sirhan, , Delyuzar, Suhardiman, dan sejumlah anggota lainnya.
Salmi Hengky, ketua panitia penyelenggara mengatakan, masyarakat minang yang menghadiri nanti akan di hibur dengan sejumlah tari-tarian minang termasuk randai salah satunya. ”Semoga dengan terselenggaranya acara ini sedikit mengobati kerinduan perantau dengan suasana ranah minang,” ucapnya disela-sela persiapan acara. Mahasiswa Ilmu komunikasi Fisip USU ini menambahkan, saat ini segala persiapan pelaksanaan acara tidak begitu menemui kendala berarti. “Peserta yang akan tampil telah melakukan latihan dari jauh hari,” tambahnya.
Sabtu, 26 Februari 2011
Perjuangan Untuk Mencapai Manisnya Hari Wisuda
Berbagai tantangan harus dihadapi mahasiswa untuk mencapai prosesi wisuda. Wisuda adalah puncak pencapaian yang dituju mahasiswa selama betahun-tahun menuntut ilmu di bangku kuliah. Momen memakai Toga sangat dinantikan tiap mahasiswa
22 Januari 2011, pukul setengah tujuh pagi. Lindawati Simbolon mengenakan kebaya dibalut Toga. Wajah sudah ia poles dengan bedak, eye shadow, blush on, eye liner, maskara, dan lipstik. Ia dan 69 peserta wisuda di barisan Fakultas Ilmu Sosial (Fisip) dan memasuki auditorium. Mereka boyong orang tua mereka masuk, lalu duduk di tempat yang sudah ditentukan. Linda lulus dengan IPK 3,52. Ia duduk di barisan depan di barisan peserta wisuda dari Fisip.
Pukul 7.30 WIB prosesi dimulai dengan kata sambutan Rektor USU Syahril Pasaribu, kemudian pelatikan secara bersama oleh Rektor, pembagian ijazah dan sepatah kata dari perwakilan peserta wisuda. setelah melewati resepsi di Gedung Auditorium pada umumnya para peserta wisuda melakukan foto bersama dengan kerabat terdekat mereka.
Seremonia itu, meski singkat, tapi berharga bagi Linda. Sudah lama ia membayangkan berfoto dengan orangtua, menggunakan toga. Pernah suatu hari, ketika ia sedang penelitian di Toba Pulp Lestari Kabupaten Toba Samosir, ia menangis karena merasa bingung dan kesulitan dengan birokrasi di sana.
“Aku nyaris give up. Bayangin aja, seminggu aku di sana, tapi belum dapat apa-apa,” kata Linda.
Satu hal yang membuat Linda kuat adalah orang tua. “Aku selalu ingat mereka, aku bayangkan mereka berfoto di hari wisuda.” Itu juga yang membuatnya mampu menyelesaikan studi di Ilmu Komunikasi hanya dalam 3,4 tahun.
Ujian terakhir ia hadapi pada sidang meja hijau 21 Desember 2010. Ia sudah mempersiapkan segalanya, termasuk 10 kotak nasi untuk dosen dan pegawai. Tentang nasi itu, tak ada aturan yang mengharuskan untuk memberi atau melarang mahasiswa memberi. Kebiasaan memberi makan siang bahkan sudah menjadi tradisi di kampusnya. “Sudah seperti itu biasanya, mau tak mau, aku ikut aja lah,” kata Linda.
Ketika Linda sudah merasa siap jiwa raga, salah satu dosen penguji mengatakan bahwa sidang ditunda. Kondisi fisik yang kurang sehat menjadi alasan si dosen. Linda dan beberapa mahasiswa yang juga mau sidang hari itu tak tinggal diam. Mereka hubungi sang dosen, hingga sidang akhirnya tetap digelar. Namun, mood dosen tersebut rusak. Ia marah-marah pada Linda. Keluar ruang meja hijau, Linda menangis. Namun kesulitan yang dialaminya terbayar dengan prosesi sesaat yang disebut wisuda.
Cerita yang sedikit berbeda diutarakan oleh Farida Hanum, alumni Manajemen Ekstensi. Ia mengesalkan banyaknya uang keluar untuk melewati proses hingga wisuda. Untuk seminar proposal, Farida merogoh kocek sebesar 150 ribu rupiah yang dibayarkan ke bendahara fakultas bagian administrasi. “Uang ini kabarnya untuk administrasi seminar dan konsumsi bagi dosen yang hadir saat seminar dan ujian meja hijau,” kata Farida. Dari fakultas lewat pengelola kantin, masing-masing peserta sidang mendapatkan jatah empat kotak makanan ringan (Snack) yang akan diberikan kepada dosen. Namun untuk konsumsi audiens tergantung ke masing-masing mahasiswa untuk menyediakan atau tidak.
Masih soal pembayaran Farida mengaku harus merogoh kocek lebih dalam lagi untuk biaya sidang meja hijau sebesar 375 ribu rupiah yang disetorkan ke biro rektor, “Untuk sidang kita minta kuitansi dari fakultas untuk bayar ke biro rektor 375 ribu rupiah,” ungkapnya. Ditambah lagi untuk resepsi wisuda ia membayarkan 500 ribu rupiah untuk sewa toga, salempang, serta untuk memperoleh ijazah.
Sebelum sidang ada beberapa berkas yang harus dilengkapi seperti fotokopi sertifikat TOEFL, bebas perpus, fotokopi ijazah D3, slip pembayaran SPP (seluruhnya), pasphoto, KHS (seluruhnya), form sidang yang ditandatangani oleh PD 1 dan Kepala Sub Bagian Pendidikan.
Di hari sidang juga disahkan Farida dan 34 mahasiswa lainnya resmi memiliki gelar Sarjana. “Kami berbaris untu disahkan pada hari itu bergelar Sarjana Ekonomi,” kenangnya penuh kelegaan.
Pengalaman Linda dan Farida hanya sedikit menggambarkan berbagai cerita yang catatkan ribuan tamatan USU tiap tahunnya. Tiap departemen terkadang memiliki aturan tersendiri dalam birokrasi dan aturan-aturan lainnya. Seperti di Fakultas Psikologi seminar proposal diadakan dalam bentuk mata kuliah sedangkan di Fisip seminar tidak termasuk kepada mata kuliah.
Zakaria, Pembantu Dekan (PD) I Fisip menjelaskan di Fisip tidak ada matakuliah. Seminar menurut Zakaria adalah berupa praktik kerja lapangan atau studi kasus yang diseminarkan untuk tanpa melibatkan pihak luar seperti seminar-seminar pada umumnya.
Untuk ketentuan matakuliah seminar ini diserahkan pada departemen masing-masing, “ini merupakan matakuliah tingkat departemen sehingga menjadi kebijakan departemen,” terangnya.
Zulkifli Nasution, Pembantu Rektor I USU memberikan komentar untuk hal ini. Ia mengatakan, peraturan sebelum wisuda itu memang normatif. Ada peraturan dari pusat namun sifatnya fleksibel yang disesuaikan kembali dengan kebijakan kampus masing-masing. “Peraturan yang ditentukan pihak rektorat kami kembalikan lagi kepada fakultas, namun tetap berpanduan kepada aturan-aturan yang tertera pada buku panduan (buku hijau -red).
Zulkifli menambahkan apabila ada dosen yang tidak melayani mahasiswa seperti yang dihadapi Linda dan kawan-kawan, maka itu akan ditindak lanjuti oleh rektorat. “Pelayanan kepada mahasiswa harus yang terbaik,” tegas mantan Dekan Fakultas Pertanian ini.
Jumlah Peserta Sidang Tak menentu
Farida menjalani sidang meja hijau pada pertengahan Juni 2010. Sidang yang dilalui Farida kala itu adalah sidang massal karena banyaknya mahasiswa yang sidang meja hijau hari itu. “Kemarin sidang massal, sekitar 35 orang karena ngejar wisuda bulan Juli,” terangnya.
Farida kembali mengingat hari itu ruang sidang tidak dapat menampung seluruh mahasiswa sehingga sidang meja hijau dipindahkan ke Aula FE dengan memungut 20 ribu rupiah per mahasiswa untuk kontribusi kebersihan. “Karena ruang sidang nggak muat, jadi pindah ke aula,” tuturnya.
Hal yang sama juga sering terjadi di Fakultas Hukum (FH). Budiman Ginting, PD I FH mengatakan bahwa pada saat masa akhir pendaftaran wisuda, jumlah mahasiswa yang akan menyelenggarakan skripsi sering membludak. Menghadapi hal ini, pihak fakultas mengeluarkan kebijakan tenggat waktu pendaftaran sidang skripsi paling lama dua minggu sebelum pendaftaran wisuda. Namun untuk beberapa hal, mahasiswa tertentu masih diperbolehkan mendaftar ujian di luar batas yang telah ditetapkan. ”Terkadang pengumuman nilai UAS, dan batas pendaftaran sidang skripsi tidak singkron, saya kira masih bisa disisipkan, ini kebijakan yang kami tempuh agar mahasiswa tidak lagi membayar uang kuliah semester berikutnya,” ungkapnya.
Budiman memiliki solusi dengan cara pengalokasian waktu dengan jumlah mahasiswa sidang yang lebih diperhatikan lagi. Selain itu demi menjaga mutu lulusan, sidang skripsi juga dapat dibagi dengan sebagian majelis diisi ketua departemen dan sebagian lagi diisi sekretaris departemen dan anggota majelis lainnya. ”Membludaknya mahasiswa tidak menjadi kendala lagi,” pungkas Budiman.
Selain itu, departemen wajib melihat jumlah mahasiswa yang bakal ujian dan telah selesai, ”Kasubbag pendidikan dan departemen tetap ada komunikasi untuk mahasiswa yang ujian,” tutupnya.
Husnan Lubis, PD I Fakultas sastra ikut memberikan komentar untuk hal ini. Menurutnya jumlah ideal peserta sidang dalam satu hari cukup tiga orang saja. Apabila lebih dari sepuluh bahkan mencapai 30 maka tidak bisa mencapai kualitas yang diinginkan, “Namanya juga dari segi kualitas tentu sulit dicapai karena terlalu banyak dan tidak kondusif. Apabila masih bisa mencapai kualitas yang bagus maka penguji itu Superman lha!” pungkasnya diiringi tawa kecil.
Husnan juga mengungkapkan pandangannya tentang pengumpulan skripsi yang ideal. Menurutnya, mahasiswa sebaiknya menyerahkan skripsi sebulan sebelum sidang skripsi sehingga penguji dapat benar-benar matang dalam mempelajari skripsi dan mengetahui kesalahan yang terdapat dalam skripsi tersebut. “Kalau sekarang, kapan skripsi disitu dikasih bahannya, tentu saja dosen tidak sempat mempelajari lebih dalam dan juga akan berdampak pada mutu skripsi,” keluhnya.
Mengganggu Konsentrasi Sidang
Jumat (4/2) tepat jam 10.00 WIB ruang bagian akademik Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) terlihat berbagai kesibukan para pegawai. Ruang yang memanjang tersebut berdampingan dengan kantor Zulhaida Lubis, Pembantu Dekan (PD) I FKM. Beberapa pegawai keluar masuk untuk mengurus keperluan administrasi mahasiswa yang perlu untuk ditandatangani PD I.
Disela-sela kesibukan tersebut, Zulhaida dengan wajah ramah duduk manis di kursi kerjanya memberikan penjelasan mengenai larangan bagi mahasiswa membawa makanan saat sidang proposal dan sidang skripsi. Ia mengatakan pihak fakultas menginginkan mahasiswa hanya terfokus kepada sidang meja hijau yang menentukan pencapaian perkuliahan mereka. “Kami hanya ingin meringankan beban mahasiswa, itu saja, sebab dengan urusan konsumsi ini konsentrasi mereka akan terganggu untuk sidang,” ucapnya diiringi dengan senyuman.
Wanita berjilbab hijau lunak ini menilai, meski jumlah harga konsumsi yang dikeluarkan mahasiswa itu tidak seberapa, akan lebih efisien apabila mahasiswa lebih fokus ke sidang, tidak sibuk mempersiapkan konsumsi. Atas dasar itulah dekanat FKM mengeluarkan surat pemberitahuan sejak 11 Januari lalu untuk melarang mahasiswa menyediakan makanan apapun.
Menanggapi hal ini, Delvina, Mahasiswa FKM mengatakan hal ini menghambat mahasiswa untuk mengucapkan terimakasih kepada dosen penguji. “Cuma itulah sebagai tanda terima kasih kepada dosen-dosen yang telah memberi kita gelar sarjana,” ucapnya ketika berjaga di stan Pentas Olahraga dan Seni FKM. Delvina menambahkan meskipun sudah dilarang, beberapa orang seniornya masih ada yang mengucapkan tanda terima kasih dengan pemberian Parcel kepada dosen secara pribadi.
Umi Habibah Pane. Mahasiswa FKM yang baru saja menyelesaikan sidang pada akhir Desember 2010 lalu mengatakan bahwa mahasiswa mengatakan tidak ada yang keberatan dengan pemberian konsumsi bagi dosen penguji. “Ketika saya sidang, belum ada larangan untuk membawa makanan, tapi fakultas pasti menginginkan yang terbaik bagi mahasiswa,” imbuhnya sambil merapikan skripsinya yang berwarna hijau.
Dengan larangan ini, konsumsi dosen penguji ditanggung oleh fakultas. “Fakultas akan menyediakan meskipun cuma sebatas minuman dan snack kecil,” lirih zulhaida. Berusaha mengingat ke beberapa tahun silam, zulhaidah mengatakan bahwa dulu konsumsi dosen penguji di FKM memang disediakan fakultas. Tetapi dengan keterbatasan dana, fakultas hanya menyediakan minuman sejenis jus untuk para dosen. “Mungkin dengan faktor inilah mahasiswa berinisiatif berkongsi satu sama lain untuk menyediakan konsumsi saat sidang,” jelasnya lagi.
Larangan untuk membawa konsumsi ini juga diberlakukan di Departemen Ekonomi Pembangunan (EP) Fakutas Ekonomi. Irsyad Lubis, Ketua Program Studi EP mengatakan sudah lama melarang mahasiswa membawa konsumsi sewaktu sidang. “sebetulnya di FE sudah dilarang oleh PD I sebelumnya membawa makanan dalam bentuk apapun saat sidang di meja hijau,” tegas Irsyad.
Namun mahasiswa tidak mengindahkan aturan tersebut. Irsyad menilai aturan ini hampir sama dengan larangan pemerintah kota yang melarang untuk memberikan uang kepada pengemis jalanan. “Adakah hukuman bagi masyarakat yang masih ngasih duit kepada gelandang dan pengemis itu? Tentu tidak,” ujar Irsyad sambil tersenyum.
Namun demikian Irsyad mengatakan betul-betul melarang membawa makanan saat sidang meja hijau khususnya di EP. “Lebih baik mereka fokus dengan bundel skripsi masing-masing,” tambahnya lagi. (Febrian)
22 Januari 2011, pukul setengah tujuh pagi. Lindawati Simbolon mengenakan kebaya dibalut Toga. Wajah sudah ia poles dengan bedak, eye shadow, blush on, eye liner, maskara, dan lipstik. Ia dan 69 peserta wisuda di barisan Fakultas Ilmu Sosial (Fisip) dan memasuki auditorium. Mereka boyong orang tua mereka masuk, lalu duduk di tempat yang sudah ditentukan. Linda lulus dengan IPK 3,52. Ia duduk di barisan depan di barisan peserta wisuda dari Fisip.
Pukul 7.30 WIB prosesi dimulai dengan kata sambutan Rektor USU Syahril Pasaribu, kemudian pelatikan secara bersama oleh Rektor, pembagian ijazah dan sepatah kata dari perwakilan peserta wisuda. setelah melewati resepsi di Gedung Auditorium pada umumnya para peserta wisuda melakukan foto bersama dengan kerabat terdekat mereka.
Seremonia itu, meski singkat, tapi berharga bagi Linda. Sudah lama ia membayangkan berfoto dengan orangtua, menggunakan toga. Pernah suatu hari, ketika ia sedang penelitian di Toba Pulp Lestari Kabupaten Toba Samosir, ia menangis karena merasa bingung dan kesulitan dengan birokrasi di sana.
“Aku nyaris give up. Bayangin aja, seminggu aku di sana, tapi belum dapat apa-apa,” kata Linda.
Satu hal yang membuat Linda kuat adalah orang tua. “Aku selalu ingat mereka, aku bayangkan mereka berfoto di hari wisuda.” Itu juga yang membuatnya mampu menyelesaikan studi di Ilmu Komunikasi hanya dalam 3,4 tahun.
Ujian terakhir ia hadapi pada sidang meja hijau 21 Desember 2010. Ia sudah mempersiapkan segalanya, termasuk 10 kotak nasi untuk dosen dan pegawai. Tentang nasi itu, tak ada aturan yang mengharuskan untuk memberi atau melarang mahasiswa memberi. Kebiasaan memberi makan siang bahkan sudah menjadi tradisi di kampusnya. “Sudah seperti itu biasanya, mau tak mau, aku ikut aja lah,” kata Linda.
Ketika Linda sudah merasa siap jiwa raga, salah satu dosen penguji mengatakan bahwa sidang ditunda. Kondisi fisik yang kurang sehat menjadi alasan si dosen. Linda dan beberapa mahasiswa yang juga mau sidang hari itu tak tinggal diam. Mereka hubungi sang dosen, hingga sidang akhirnya tetap digelar. Namun, mood dosen tersebut rusak. Ia marah-marah pada Linda. Keluar ruang meja hijau, Linda menangis. Namun kesulitan yang dialaminya terbayar dengan prosesi sesaat yang disebut wisuda.
Cerita yang sedikit berbeda diutarakan oleh Farida Hanum, alumni Manajemen Ekstensi. Ia mengesalkan banyaknya uang keluar untuk melewati proses hingga wisuda. Untuk seminar proposal, Farida merogoh kocek sebesar 150 ribu rupiah yang dibayarkan ke bendahara fakultas bagian administrasi. “Uang ini kabarnya untuk administrasi seminar dan konsumsi bagi dosen yang hadir saat seminar dan ujian meja hijau,” kata Farida. Dari fakultas lewat pengelola kantin, masing-masing peserta sidang mendapatkan jatah empat kotak makanan ringan (Snack) yang akan diberikan kepada dosen. Namun untuk konsumsi audiens tergantung ke masing-masing mahasiswa untuk menyediakan atau tidak.
Masih soal pembayaran Farida mengaku harus merogoh kocek lebih dalam lagi untuk biaya sidang meja hijau sebesar 375 ribu rupiah yang disetorkan ke biro rektor, “Untuk sidang kita minta kuitansi dari fakultas untuk bayar ke biro rektor 375 ribu rupiah,” ungkapnya. Ditambah lagi untuk resepsi wisuda ia membayarkan 500 ribu rupiah untuk sewa toga, salempang, serta untuk memperoleh ijazah.
Sebelum sidang ada beberapa berkas yang harus dilengkapi seperti fotokopi sertifikat TOEFL, bebas perpus, fotokopi ijazah D3, slip pembayaran SPP (seluruhnya), pasphoto, KHS (seluruhnya), form sidang yang ditandatangani oleh PD 1 dan Kepala Sub Bagian Pendidikan.
Di hari sidang juga disahkan Farida dan 34 mahasiswa lainnya resmi memiliki gelar Sarjana. “Kami berbaris untu disahkan pada hari itu bergelar Sarjana Ekonomi,” kenangnya penuh kelegaan.
Pengalaman Linda dan Farida hanya sedikit menggambarkan berbagai cerita yang catatkan ribuan tamatan USU tiap tahunnya. Tiap departemen terkadang memiliki aturan tersendiri dalam birokrasi dan aturan-aturan lainnya. Seperti di Fakultas Psikologi seminar proposal diadakan dalam bentuk mata kuliah sedangkan di Fisip seminar tidak termasuk kepada mata kuliah.
Zakaria, Pembantu Dekan (PD) I Fisip menjelaskan di Fisip tidak ada matakuliah. Seminar menurut Zakaria adalah berupa praktik kerja lapangan atau studi kasus yang diseminarkan untuk tanpa melibatkan pihak luar seperti seminar-seminar pada umumnya.
Untuk ketentuan matakuliah seminar ini diserahkan pada departemen masing-masing, “ini merupakan matakuliah tingkat departemen sehingga menjadi kebijakan departemen,” terangnya.
Zulkifli Nasution, Pembantu Rektor I USU memberikan komentar untuk hal ini. Ia mengatakan, peraturan sebelum wisuda itu memang normatif. Ada peraturan dari pusat namun sifatnya fleksibel yang disesuaikan kembali dengan kebijakan kampus masing-masing. “Peraturan yang ditentukan pihak rektorat kami kembalikan lagi kepada fakultas, namun tetap berpanduan kepada aturan-aturan yang tertera pada buku panduan (buku hijau -red).
Zulkifli menambahkan apabila ada dosen yang tidak melayani mahasiswa seperti yang dihadapi Linda dan kawan-kawan, maka itu akan ditindak lanjuti oleh rektorat. “Pelayanan kepada mahasiswa harus yang terbaik,” tegas mantan Dekan Fakultas Pertanian ini.
Jumlah Peserta Sidang Tak menentu
Farida menjalani sidang meja hijau pada pertengahan Juni 2010. Sidang yang dilalui Farida kala itu adalah sidang massal karena banyaknya mahasiswa yang sidang meja hijau hari itu. “Kemarin sidang massal, sekitar 35 orang karena ngejar wisuda bulan Juli,” terangnya.
Farida kembali mengingat hari itu ruang sidang tidak dapat menampung seluruh mahasiswa sehingga sidang meja hijau dipindahkan ke Aula FE dengan memungut 20 ribu rupiah per mahasiswa untuk kontribusi kebersihan. “Karena ruang sidang nggak muat, jadi pindah ke aula,” tuturnya.
Hal yang sama juga sering terjadi di Fakultas Hukum (FH). Budiman Ginting, PD I FH mengatakan bahwa pada saat masa akhir pendaftaran wisuda, jumlah mahasiswa yang akan menyelenggarakan skripsi sering membludak. Menghadapi hal ini, pihak fakultas mengeluarkan kebijakan tenggat waktu pendaftaran sidang skripsi paling lama dua minggu sebelum pendaftaran wisuda. Namun untuk beberapa hal, mahasiswa tertentu masih diperbolehkan mendaftar ujian di luar batas yang telah ditetapkan. ”Terkadang pengumuman nilai UAS, dan batas pendaftaran sidang skripsi tidak singkron, saya kira masih bisa disisipkan, ini kebijakan yang kami tempuh agar mahasiswa tidak lagi membayar uang kuliah semester berikutnya,” ungkapnya.
Budiman memiliki solusi dengan cara pengalokasian waktu dengan jumlah mahasiswa sidang yang lebih diperhatikan lagi. Selain itu demi menjaga mutu lulusan, sidang skripsi juga dapat dibagi dengan sebagian majelis diisi ketua departemen dan sebagian lagi diisi sekretaris departemen dan anggota majelis lainnya. ”Membludaknya mahasiswa tidak menjadi kendala lagi,” pungkas Budiman.
Selain itu, departemen wajib melihat jumlah mahasiswa yang bakal ujian dan telah selesai, ”Kasubbag pendidikan dan departemen tetap ada komunikasi untuk mahasiswa yang ujian,” tutupnya.
Husnan Lubis, PD I Fakultas sastra ikut memberikan komentar untuk hal ini. Menurutnya jumlah ideal peserta sidang dalam satu hari cukup tiga orang saja. Apabila lebih dari sepuluh bahkan mencapai 30 maka tidak bisa mencapai kualitas yang diinginkan, “Namanya juga dari segi kualitas tentu sulit dicapai karena terlalu banyak dan tidak kondusif. Apabila masih bisa mencapai kualitas yang bagus maka penguji itu Superman lha!” pungkasnya diiringi tawa kecil.
Husnan juga mengungkapkan pandangannya tentang pengumpulan skripsi yang ideal. Menurutnya, mahasiswa sebaiknya menyerahkan skripsi sebulan sebelum sidang skripsi sehingga penguji dapat benar-benar matang dalam mempelajari skripsi dan mengetahui kesalahan yang terdapat dalam skripsi tersebut. “Kalau sekarang, kapan skripsi disitu dikasih bahannya, tentu saja dosen tidak sempat mempelajari lebih dalam dan juga akan berdampak pada mutu skripsi,” keluhnya.
Mengganggu Konsentrasi Sidang
Jumat (4/2) tepat jam 10.00 WIB ruang bagian akademik Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) terlihat berbagai kesibukan para pegawai. Ruang yang memanjang tersebut berdampingan dengan kantor Zulhaida Lubis, Pembantu Dekan (PD) I FKM. Beberapa pegawai keluar masuk untuk mengurus keperluan administrasi mahasiswa yang perlu untuk ditandatangani PD I.
Disela-sela kesibukan tersebut, Zulhaida dengan wajah ramah duduk manis di kursi kerjanya memberikan penjelasan mengenai larangan bagi mahasiswa membawa makanan saat sidang proposal dan sidang skripsi. Ia mengatakan pihak fakultas menginginkan mahasiswa hanya terfokus kepada sidang meja hijau yang menentukan pencapaian perkuliahan mereka. “Kami hanya ingin meringankan beban mahasiswa, itu saja, sebab dengan urusan konsumsi ini konsentrasi mereka akan terganggu untuk sidang,” ucapnya diiringi dengan senyuman.
Wanita berjilbab hijau lunak ini menilai, meski jumlah harga konsumsi yang dikeluarkan mahasiswa itu tidak seberapa, akan lebih efisien apabila mahasiswa lebih fokus ke sidang, tidak sibuk mempersiapkan konsumsi. Atas dasar itulah dekanat FKM mengeluarkan surat pemberitahuan sejak 11 Januari lalu untuk melarang mahasiswa menyediakan makanan apapun.
Menanggapi hal ini, Delvina, Mahasiswa FKM mengatakan hal ini menghambat mahasiswa untuk mengucapkan terimakasih kepada dosen penguji. “Cuma itulah sebagai tanda terima kasih kepada dosen-dosen yang telah memberi kita gelar sarjana,” ucapnya ketika berjaga di stan Pentas Olahraga dan Seni FKM. Delvina menambahkan meskipun sudah dilarang, beberapa orang seniornya masih ada yang mengucapkan tanda terima kasih dengan pemberian Parcel kepada dosen secara pribadi.
Umi Habibah Pane. Mahasiswa FKM yang baru saja menyelesaikan sidang pada akhir Desember 2010 lalu mengatakan bahwa mahasiswa mengatakan tidak ada yang keberatan dengan pemberian konsumsi bagi dosen penguji. “Ketika saya sidang, belum ada larangan untuk membawa makanan, tapi fakultas pasti menginginkan yang terbaik bagi mahasiswa,” imbuhnya sambil merapikan skripsinya yang berwarna hijau.
Dengan larangan ini, konsumsi dosen penguji ditanggung oleh fakultas. “Fakultas akan menyediakan meskipun cuma sebatas minuman dan snack kecil,” lirih zulhaida. Berusaha mengingat ke beberapa tahun silam, zulhaidah mengatakan bahwa dulu konsumsi dosen penguji di FKM memang disediakan fakultas. Tetapi dengan keterbatasan dana, fakultas hanya menyediakan minuman sejenis jus untuk para dosen. “Mungkin dengan faktor inilah mahasiswa berinisiatif berkongsi satu sama lain untuk menyediakan konsumsi saat sidang,” jelasnya lagi.
Larangan untuk membawa konsumsi ini juga diberlakukan di Departemen Ekonomi Pembangunan (EP) Fakutas Ekonomi. Irsyad Lubis, Ketua Program Studi EP mengatakan sudah lama melarang mahasiswa membawa konsumsi sewaktu sidang. “sebetulnya di FE sudah dilarang oleh PD I sebelumnya membawa makanan dalam bentuk apapun saat sidang di meja hijau,” tegas Irsyad.
Namun mahasiswa tidak mengindahkan aturan tersebut. Irsyad menilai aturan ini hampir sama dengan larangan pemerintah kota yang melarang untuk memberikan uang kepada pengemis jalanan. “Adakah hukuman bagi masyarakat yang masih ngasih duit kepada gelandang dan pengemis itu? Tentu tidak,” ujar Irsyad sambil tersenyum.
Namun demikian Irsyad mengatakan betul-betul melarang membawa makanan saat sidang meja hijau khususnya di EP. “Lebih baik mereka fokus dengan bundel skripsi masing-masing,” tambahnya lagi. (Febrian)
Minggu, 23 Januari 2011
Pembangunan Belum Selesai, Pajus Stasiun Karona Ramai Pengunjung
febrian
USU,suarausu-online.com —Setelah diresmikan pada pertengahan November 2010 lalu, pembangunan Pajus Baru USU di bekas Stasiun Karona, Jalan Jamin Ginting, Padang Bulan hampir selesai dan sudah ramai pengunjung. Edwin Reinaldo, koordinator pengelola mengatakan jumlah pengunjung perlahan mulai meningkat meski pembangunan masih berlangsung.
Menurut Edwin, meski belum seperti Pajus ketika masih berlokasi di USU, respon pengunjung disini mulai menujukan peningkatan. “Saya optimis apabila pembangunan benar-benar sudah siap pengunjung akan terus bertambah,” ucapnya, Sabtu (22/1).
Edwin juga menambahkan, target awal pembangunan selesai adalah satu bulan setelah peresmian. Namun sedikti molor karena adanya penambahan jumlah kios dan hal-hal teknis lainnya. “Awalnya hanya akan dibuka 91 kios, tapi karena banyak pedagang yang daftar maka ditambah menjadi 130 kios,” tambahnya.
Tumpal, salah satu pengunjung mengatakan sangat menyukai Pajus di Stasiun karona ini. “Tertata sangat rapi, beda dengan Pajus ketika masih berlokasi di USU,” pungkasnya.
USU,suarausu-online.com —Setelah diresmikan pada pertengahan November 2010 lalu, pembangunan Pajus Baru USU di bekas Stasiun Karona, Jalan Jamin Ginting, Padang Bulan hampir selesai dan sudah ramai pengunjung. Edwin Reinaldo, koordinator pengelola mengatakan jumlah pengunjung perlahan mulai meningkat meski pembangunan masih berlangsung.
Menurut Edwin, meski belum seperti Pajus ketika masih berlokasi di USU, respon pengunjung disini mulai menujukan peningkatan. “Saya optimis apabila pembangunan benar-benar sudah siap pengunjung akan terus bertambah,” ucapnya, Sabtu (22/1).
Edwin juga menambahkan, target awal pembangunan selesai adalah satu bulan setelah peresmian. Namun sedikti molor karena adanya penambahan jumlah kios dan hal-hal teknis lainnya. “Awalnya hanya akan dibuka 91 kios, tapi karena banyak pedagang yang daftar maka ditambah menjadi 130 kios,” tambahnya.
Tumpal, salah satu pengunjung mengatakan sangat menyukai Pajus di Stasiun karona ini. “Tertata sangat rapi, beda dengan Pajus ketika masih berlokasi di USU,” pungkasnya.
Rabu, 19 Januari 2011
Berlakukan Stiker Tanda Masuk Kendaraan, FF Pungut 75 Ribu Rupiah
febrian
Sebelum berakhirnya semester ganjil 2010 Dekanat Fakultas Farmasi (FF) umumkan pemberlakuan stiker tanda masuk untuk kendaraan roda dua dan roda empat.
Tercantum dalam pengumuman resmi dari Pembantu Dekan (PD) III FF pada 8 Desember 2010 supaya mahasiswa pengguna kendaraan yang telah terdata diwajibkan membayar kontribusi Rp75.000,00 per semester ke bagian keuangan. Jika tidak melunasi kontribusi stiker tersebut maka Kartu Rencana Studi (KRS) yang bersangkutan tidak akan dikeluarkan.
Menanggapi hal ini Gubernur Pema FF Ahmad Syahnan Lubis mengatakan pihak fakultas tidak melibatkan elemen mahasiswa termasuk Pema dalam pengambilan kebijakan stiker tanda masuk kendaraan ini. Ia telah mengajak pihak fakultas untuk membahas kebijakan yang telah diambil, karena secara keseluruhan mahasiswa masih mempertanyakan dasar ketetapan sebesar Rp75.000,00 tersebut.
“Atas nama pema saya telah mengajukan ke fakultas supaya keputusan ini diperjelas dan dipertimbangkan lagi dengan melibatkan seluruh elemen mahasiswa,” ucapnya ketika ditemui di kampus FF, Sabtu (15/1).
Syahnan mengatakan pihak fakultas berdalih uang kontribusi itu akan digunakan untuk perbaikan fasilitas lain yang ada di kampus FF. “Dengan alasan seperti itu tidak pantas jika hanya diberatkan ke pengguna kendaraan saja, toh semua mahasiswa yang menikmati fasilitas yang diberikan fakultas,” tambahnya.
Namun ketika SUARA USU menanyakan langsung ke PD III FF Nazlinawaty, ia hanya bertutur no komen .”Saya tidak mau bicarakan hal itu,” tegasnya.
Sebelum berakhirnya semester ganjil 2010 Dekanat Fakultas Farmasi (FF) umumkan pemberlakuan stiker tanda masuk untuk kendaraan roda dua dan roda empat.
Tercantum dalam pengumuman resmi dari Pembantu Dekan (PD) III FF pada 8 Desember 2010 supaya mahasiswa pengguna kendaraan yang telah terdata diwajibkan membayar kontribusi Rp75.000,00 per semester ke bagian keuangan. Jika tidak melunasi kontribusi stiker tersebut maka Kartu Rencana Studi (KRS) yang bersangkutan tidak akan dikeluarkan.
Menanggapi hal ini Gubernur Pema FF Ahmad Syahnan Lubis mengatakan pihak fakultas tidak melibatkan elemen mahasiswa termasuk Pema dalam pengambilan kebijakan stiker tanda masuk kendaraan ini. Ia telah mengajak pihak fakultas untuk membahas kebijakan yang telah diambil, karena secara keseluruhan mahasiswa masih mempertanyakan dasar ketetapan sebesar Rp75.000,00 tersebut.
“Atas nama pema saya telah mengajukan ke fakultas supaya keputusan ini diperjelas dan dipertimbangkan lagi dengan melibatkan seluruh elemen mahasiswa,” ucapnya ketika ditemui di kampus FF, Sabtu (15/1).
Syahnan mengatakan pihak fakultas berdalih uang kontribusi itu akan digunakan untuk perbaikan fasilitas lain yang ada di kampus FF. “Dengan alasan seperti itu tidak pantas jika hanya diberatkan ke pengguna kendaraan saja, toh semua mahasiswa yang menikmati fasilitas yang diberikan fakultas,” tambahnya.
Namun ketika SUARA USU menanyakan langsung ke PD III FF Nazlinawaty, ia hanya bertutur no komen .”Saya tidak mau bicarakan hal itu,” tegasnya.
Masih Gunakan Server Gratis Portal Akademik Over load
febrian
Kelebihan kapasitas (over load) portal akademik USU sulit dibuka jelang masa pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) berakhir. Kepala Perpustakaan dan Sistem informasi (Psi) Ridwan Siregar mengatakan pengelolaan Portal akademik USU masih menggunakan data base gratis dengan kapasitas kecil. Sudah tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa USU yang terus bertambah tiap tahunnya.
“Lima tahun terakhir USU masih menggunakan data base tipe MY SQL. Dan sudah dicanangkan untuk berganti ke tipe data base Oracle atau DBS yang berkapasitas besar pada semester depan,” ucap Ridwan ketika ditemui di kantornya, Selasa (18/1).
Namun Ridwan juga menyebutkan kejadian over load ini disebabkan mahasiswa yang pada umumnya mengisi KRS di akhir tenggat yang diberikan. “Apabila waktu dua minggu yang diberikan betul-betul dimaksimalkan mahasiswa maka kejadian seperti ini bisa dicegah,” tambahnya.
Tidak sedikit mahasiswa mengeluhkan portal yang sulit dibuka. Debi pratama, Mahasiswa Fakultas Pertanian mengatakan ia begadang semalaman untuk membuka portal akademiknya. “Bahkan saya berjalan ke tempat game online subuh-subuh, tapi tetap saja tidak bisa dibuka,” ucapnya.
Untuk saat ini Psi memberi perpanjangan tenggat waktu pengisian KRS sesuai permintaan masing-masing fakultas yang membuat mahasiswa sedikit lega.
Kelebihan kapasitas (over load) portal akademik USU sulit dibuka jelang masa pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) berakhir. Kepala Perpustakaan dan Sistem informasi (Psi) Ridwan Siregar mengatakan pengelolaan Portal akademik USU masih menggunakan data base gratis dengan kapasitas kecil. Sudah tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa USU yang terus bertambah tiap tahunnya.
“Lima tahun terakhir USU masih menggunakan data base tipe MY SQL. Dan sudah dicanangkan untuk berganti ke tipe data base Oracle atau DBS yang berkapasitas besar pada semester depan,” ucap Ridwan ketika ditemui di kantornya, Selasa (18/1).
Namun Ridwan juga menyebutkan kejadian over load ini disebabkan mahasiswa yang pada umumnya mengisi KRS di akhir tenggat yang diberikan. “Apabila waktu dua minggu yang diberikan betul-betul dimaksimalkan mahasiswa maka kejadian seperti ini bisa dicegah,” tambahnya.
Tidak sedikit mahasiswa mengeluhkan portal yang sulit dibuka. Debi pratama, Mahasiswa Fakultas Pertanian mengatakan ia begadang semalaman untuk membuka portal akademiknya. “Bahkan saya berjalan ke tempat game online subuh-subuh, tapi tetap saja tidak bisa dibuka,” ucapnya.
Untuk saat ini Psi memberi perpanjangan tenggat waktu pengisian KRS sesuai permintaan masing-masing fakultas yang membuat mahasiswa sedikit lega.
Sabtu, 15 Januari 2011
Portal Lelet
Portal Lelet
Sabtu malam (15/01) dirumah kontrakan beralamat di Jln Jamin Ginting Gang Kamboja No.22B suasana sangat nyaman terasa. Tak seperti malam-malam biasanya tidak terdengar suara nyanyian khas batak yang biasanya hampir setiap malam eksis di beranda kos-kos an pemuda karo. Hanya terdengar sesekali perbincangan dan lagu minang dari netbook Compac punya Debi pratama.
Kontrakan kecil sederhana ini berukuran 9x8 meter persegi. Terdiri dari 2 kamar seukuran 3x4 meter persegi. Didepan kamar ada dapur dan satu kamar mandi. Selebihnya ruang tamu yang sering digunakan untuk rapat .
Dikamar sebelah kanan saudara saya Rozi afrilino terdengar sedang membicarakan hal-hal yang ringan dengan teman dekatnya Cha cissy. Rozi adalah mahasiswa Ekonomi Manajemen angkatan 2008. Pada tahun 2007 ia sempat kuliah satu tahun di D3 politeknik Universitas Andalas. Merasa tidak cocok ia mencoba masuk USU jalur UMB. Lulus dan ia memutuskan menempuh jenjang perguruan tinggi di Universitas nomor satu di sumatera Utara ini. Saat ini ia sudah menempuh semester 6.
Sehari sebelumnya saya dan Rozi telah menyelesaikan penyusunan KRS di portal dn telah di serahkan ke bagian tatausaha fakultas. Fahmi dan Debi masih berkutat dengan portalnya masing karena menjadi korban leletnya portal akademik dua hari terakhir ini.
Baa KRS bi. Lah namuah bukak? Itu sajo krajo dari malam patang mah. .(gimana KRS mu bi . dah bisa dibuka? Itu aja yang dirimu dikerjakan dari kemaren) sentil rozi kepada debi yang masih mengusahakan membuka portal akademiknya. Mendekati masa pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) mahasiswa banyak yang kelimpungan karena sulitnya membuka portal akademik. Sedangkan deadline penyerahan ke kantor tatausaha masing-masing fakultas.
Debi pratama adalah mahasiswa Agribisnis Fakultas Pertanian (FP) angkatan 2010. Berasal dari Sangir Solok Selatan. Saat ini ia memasuki semester 2. Telah beberapa warung internet termasuk tempat Game online ia kunjungi guna membuka portal akademiknya tapi masih gagal. Namun sampai saat ini ia masih mengusahakan dengan memakai modem Smart milik ficky.
Ndak dapek aka do da .,.! bangkik sugah wak dr td deknyo .,ntah apo yang salah lai ko., (tidak tau lagi gimana caranya bang.,! bikin amarah membludak jadinya., ntah apanya yang salah.)
Hal serupa juga dialami Indra Fahmi (ilmu administrasi Negara angkatan 2010) . pemuda hidung mancung yang akrab dipanggil Fahmi ini juga sedang penasaran portalnya tidak bisa di buka. Itupun kalau bisa sering layar netbook HP nya kembali ke menu Login portal. Padahal tadi pengisian KRSnya sudah masuk pada menu cetak KRS. Tapi tiba-tiba kembali ke menu login. Begitulah yang terjadi dalam dua hari ini. Ketika saya membuka akun twitter dan facebook hamper setiap mahasiswa USU yang ada di beranda melontarkan kata-kata kotor mengutuk pengelolaan Portal akademik USU.
Siangnya pada pukul 11.00 WIB saya menanyakan hal ini kepada DR. Ir Hasanuddin Pembantu Dekan I FP. Menurutnya hal ini tidak akan terjadi apabila mahasiswa tidak melakukan pengisian KRS menjelang deadline mau habis. Tidak menumpuk di hari-hari terakhir yang membuat kapasitas portal membludak. “Ibarat lift yang kelebihi berat maksimal jadi tidak bisa jalan. Emang begitulah kebiasaan mahasiswa kita, selalu mengandalkan hari terakhir dalam hal apapun,” ucapnya ketika diemui ruangannya yang hangat di gedung induk Fp lantai dua.
Polemik portal akademik ini merata terjadi di setiap fakultas di USU. Terdengar kabar kalau di FP dan FISIP akan memperpanjang masa KRS hingga 31 Januari.
Dengan kejadian ini saya hanya bisa memberi semangat kepada 2 junior saya ini. Karena ada kemungkinan portal bisa dibuka tengah malam ataupun pagi hari.
“ Bagadang malam ko liak bi., dr pado cuti semester ko.,” lirih fahmi.
“ antahlah mi., duo mato kuliah yang bisa ambiak baru nyo., bis t baliak k login liak,” sahut Debi.
Kebetulan saya adalah aktivis Pers kampus. Adalah tugas saya untuk menyampaikan unek-unek mahasiswa ini ke pihak atasa (rektorat). Da saya akan berencana memwawancarai kepoala pengelola pusat system informasi ataupun langsung ke bagian kemahasiswaan USU. (Febrian)
Sabtu malam (15/01) dirumah kontrakan beralamat di Jln Jamin Ginting Gang Kamboja No.22B suasana sangat nyaman terasa. Tak seperti malam-malam biasanya tidak terdengar suara nyanyian khas batak yang biasanya hampir setiap malam eksis di beranda kos-kos an pemuda karo. Hanya terdengar sesekali perbincangan dan lagu minang dari netbook Compac punya Debi pratama.
Kontrakan kecil sederhana ini berukuran 9x8 meter persegi. Terdiri dari 2 kamar seukuran 3x4 meter persegi. Didepan kamar ada dapur dan satu kamar mandi. Selebihnya ruang tamu yang sering digunakan untuk rapat .
Dikamar sebelah kanan saudara saya Rozi afrilino terdengar sedang membicarakan hal-hal yang ringan dengan teman dekatnya Cha cissy. Rozi adalah mahasiswa Ekonomi Manajemen angkatan 2008. Pada tahun 2007 ia sempat kuliah satu tahun di D3 politeknik Universitas Andalas. Merasa tidak cocok ia mencoba masuk USU jalur UMB. Lulus dan ia memutuskan menempuh jenjang perguruan tinggi di Universitas nomor satu di sumatera Utara ini. Saat ini ia sudah menempuh semester 6.
Sehari sebelumnya saya dan Rozi telah menyelesaikan penyusunan KRS di portal dn telah di serahkan ke bagian tatausaha fakultas. Fahmi dan Debi masih berkutat dengan portalnya masing karena menjadi korban leletnya portal akademik dua hari terakhir ini.
Baa KRS bi. Lah namuah bukak? Itu sajo krajo dari malam patang mah. .(gimana KRS mu bi . dah bisa dibuka? Itu aja yang dirimu dikerjakan dari kemaren) sentil rozi kepada debi yang masih mengusahakan membuka portal akademiknya. Mendekati masa pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) mahasiswa banyak yang kelimpungan karena sulitnya membuka portal akademik. Sedangkan deadline penyerahan ke kantor tatausaha masing-masing fakultas.
Debi pratama adalah mahasiswa Agribisnis Fakultas Pertanian (FP) angkatan 2010. Berasal dari Sangir Solok Selatan. Saat ini ia memasuki semester 2. Telah beberapa warung internet termasuk tempat Game online ia kunjungi guna membuka portal akademiknya tapi masih gagal. Namun sampai saat ini ia masih mengusahakan dengan memakai modem Smart milik ficky.
Ndak dapek aka do da .,.! bangkik sugah wak dr td deknyo .,ntah apo yang salah lai ko., (tidak tau lagi gimana caranya bang.,! bikin amarah membludak jadinya., ntah apanya yang salah.)
Hal serupa juga dialami Indra Fahmi (ilmu administrasi Negara angkatan 2010) . pemuda hidung mancung yang akrab dipanggil Fahmi ini juga sedang penasaran portalnya tidak bisa di buka. Itupun kalau bisa sering layar netbook HP nya kembali ke menu Login portal. Padahal tadi pengisian KRSnya sudah masuk pada menu cetak KRS. Tapi tiba-tiba kembali ke menu login. Begitulah yang terjadi dalam dua hari ini. Ketika saya membuka akun twitter dan facebook hamper setiap mahasiswa USU yang ada di beranda melontarkan kata-kata kotor mengutuk pengelolaan Portal akademik USU.
Siangnya pada pukul 11.00 WIB saya menanyakan hal ini kepada DR. Ir Hasanuddin Pembantu Dekan I FP. Menurutnya hal ini tidak akan terjadi apabila mahasiswa tidak melakukan pengisian KRS menjelang deadline mau habis. Tidak menumpuk di hari-hari terakhir yang membuat kapasitas portal membludak. “Ibarat lift yang kelebihi berat maksimal jadi tidak bisa jalan. Emang begitulah kebiasaan mahasiswa kita, selalu mengandalkan hari terakhir dalam hal apapun,” ucapnya ketika diemui ruangannya yang hangat di gedung induk Fp lantai dua.
Polemik portal akademik ini merata terjadi di setiap fakultas di USU. Terdengar kabar kalau di FP dan FISIP akan memperpanjang masa KRS hingga 31 Januari.
Dengan kejadian ini saya hanya bisa memberi semangat kepada 2 junior saya ini. Karena ada kemungkinan portal bisa dibuka tengah malam ataupun pagi hari.
“ Bagadang malam ko liak bi., dr pado cuti semester ko.,” lirih fahmi.
“ antahlah mi., duo mato kuliah yang bisa ambiak baru nyo., bis t baliak k login liak,” sahut Debi.
Kebetulan saya adalah aktivis Pers kampus. Adalah tugas saya untuk menyampaikan unek-unek mahasiswa ini ke pihak atasa (rektorat). Da saya akan berencana memwawancarai kepoala pengelola pusat system informasi ataupun langsung ke bagian kemahasiswaan USU. (Febrian)
Langganan:
Postingan (Atom)